Kontes Video Tentang Indonesia

Saya diberitahu seorang kawan bahwa ada kontes video dan foto tentang Indonesia. Hadiahnya lumayan juga, sampai Rp 18 juta. Silahkan lihat informasinya di:
http://my-indonesia.info/contest/

Sayangnya saya tidak pandai mengambil foto dan membuat video. Kalau saja … pasti ikutan. Soal menang atau kalah urusan nanti. Yang penting, ikutan dulu. Ini juga sekalian memperkenalkan Indonesia ke dunia. Supaya tidak diklaim negara jiran. ha ha ha.

Antara Begadang dan Tidur

Sebetulnya ada alasan kuat saya memilih tidur daripada begadang, yaitu takut lewat waktu sholat Subuh. Itu saja. Jadi, seringkali saya hentikan begadangnya (max jam 12 malam atau 1 pagi) dan diganti bangun pagi. Tidur jam 12 malam, bangun jam 4 pagi. Ini sama dengan tidur jam 3 pagi, bangun jam 7 pagi. he he he.

Terus Kerja …

Di blog saya yang lain (yang wordpress), kadang saya melemparkan pertanyaan apakah sebaiknya tidur atau terus bekerja ketika malam sudah mulai larut. Biasanya jawabannya adalah … tidur. Kali ini saya dihadapkan kepada masalah yang sama lagi. Namun kali ini saya memilih untuk tetap bekerja. Mungkin karena blognya lain, jadi jawabannya lain? he he he …

Wah repot kalau sering mampir ke blog ini. Jadinya kerja terus. hi hi hi …

Ok deh. Menjelang tengah malam, materi presentasi sudah di tangan … Butuh lagu yang bikin semangat. Hmm, apa ya? Ok. Nemu!

Ain’t No Mountain High Enough … (baik dari versi Marvin Gaye ataupun versi Diana Ross). Puter terus ah. Di-loop.

Jadi semangat untuk ngelembur. Tidak ada gunung yang terlalu tinggi untuk kudaki! Tidak ada tulisan (makalah) yang terlalu susah untuk dibaca malam ini! Terus mendaki! (baru halaman 5 dari … gak usah dihitung, nanti jadi ketakutan he he he).

Burning midnight oil

Campur Aduk Dimana?

Mau nulis di blog saya yang rahard.wordpress.com dengan isi yang kurang serius kok agak gimana gitu. Ya sudah. Nulis di sini saja. he he he. Eh, atau biar nulis di sana saja? Tapi nggak mutu, gimana? Kita coba di sana dulu ya? Kalau nanti banyak yang mengeluhkan (tidak mutu), maka pindahkan ke sini.

hu hu …

Kebayakan Blog

Blog ini jarang diupdate karena sudah keblinger dengan blog yang ada di wordpess.com. Salah sendiri punya blog banyak. Ya udah. Lantas mau apa? Ya … nggak tahu ah. Nggak tahu mau apa. Asal ngetik aja. (Sambil nunggu download.)

Lagi punyeng banyak kerjaan tapi akses internetnya lambat, komputernya juga udah lambat semua, komputer linux untuk dioprek juga gak ada - adanya notebook yang lambat. Ngeluh teruzzz.

Kategori: asal njeplak

Kutipan asal mangap

“Ketidakpastian itu mahal harganya.” (BR)

hembuskan …

hembuskan idemu ke dalam kalbuku …

Masalah Open Office 2.2

Di komputer Linux saya sudah terpasang Open Office 2.2. Ternyata ketika mengimpor berkas Microsoft Power Point (PPT) dia membutuhkan waktu yang lama sekali.

Minggu lalu pertama kali saya coba, dibutuhkan waktu hampir 3 menit untuk mengimpor berkas PPT tersebut. Ketika saya coba simpan dalam format barunya (ODT), dia crash. Entah kenapa.

Tadinya saya pikir ini salah di tempat saya saja. Mungkin ada masalah yang spesifik dengan berkas PPT yang ingin saya buka itu. Tapi beberapa hari kemudian di tempat yang lain, dan di komputer yang lain, kawan saya mengalami masalah yang sama. Jadi ini masalah di Open Office 2.2. Ada yang mengalami masalah sama? Solusinya? Downgrade?

Main-main IGOS Nusantara

Lanjutan dari main-main IGOS Nusantara.

ACPI untuk screen sudah jalan/ betul. Tadinya kalau notebook ditutup, layar mati dan tidak kembali lagi. Sekarang sudah bisa hidup kembali ketika layar dibuka lagi. Solusinya adalah mengedit /etc/acpi/events/video.conf dan mengikuti petunjuk di sana. (Uncomment dua baris.)

Masalah yang belum terpecahkan adalah LCD dan video out (untuk presentasi ke LCD projector) keluar bersamaan. Sampai saat ini belum terpecahkan. Mungkin harus update Xorg-nya dulu supaya menggunakan chipset yang digunakan notebook saya?

Masalah baru. Tadi updat mplayer dari repo di LIPI. Sekarang mplayer jadi nggak keluar suaranya! Waaahhh…

Update, update, update. Ternyata mplayer yang ada saat ini menggunakan OSS, bukan alsa. Jadi kalau saya paksa dia pakai oss (mplayer -ao oss) bisa jalan dia. Lah malah bingung; bukankah oss sudah dianggap kadaluwarsa dan digantikan dengan alsa?

Beberapa Hari dengan IGOS Nusantara

Sudah beberapa hari ini saya hanya menggunakan IGOS Nusantara saja. Kebetulan sedang di luar kota untuk beberapa hari. Saya membawa notebook yang berisi IGOS Nusantara. Notebook iBook (Mac OS X) saya tinggal di rumah. Ternyata hidup dengan IGOS Nusantara tidak terlalu bermasalah. Semua pekerjaan saya bisa saya lakukan di sini.

Pekerjaan saya menuntut saya untuk menggunakan akses Internet. Tidak ada masalah di sana, kecuali pada awalnya saja, yaitu mengakses access point yang menggunakan perlindungan WPA. Ternyata ketemu dengan menggunakan “wpa_supplicant”.

Berikutnya pekerjaan saya menuntut saya melakukan presentasi. Saya buat materi presentasi saya dengan menggunakan OpenOffice. Tidak ada masalah yang mendasar. Materi presentasi oke saja. Hanya saja saya kekurangan clip arts untuk membuat materi ini lebih menarik.

Presentasi saya lakukan dengan notebook ini juga. Nah di sini ada masalah sedikit. Saya tidak bisa menggunakan layar notebook dan layar tampilan (LCD projector) secara bersamaan. Hanya salah satu yang bisa hidup. Yang ini perlu dioprek lain waktu. Masalah kedua adalah Linux mendeteksi LCD projector memiliki kemampuan resolusi yang tinggi. Dia kemudian mencoba untuk menggunakan resolusi yang tinggi (1600 x 1200). Ternyata materi presentasi terpotong di sisi samping (kiri dan kanan). Selain itu karena memori notebook ini kecil (hanya 256 MB), maka resolusi yang tinggi ini membuat notebook melakukan swapping. Akibatnya notebook terasa lambat. Saya kecilkan resolusi ke 800x600. Problem selesai.

Pekerjaan selanjutnya adalah membuat tulisan. Yang ini saya lakukan dengan OpenOffice. Tidak ada masalah. Hanya saja saya tidak tahu apakah orang yang menerima tulisan saya dapat membuka berkas dalam format open document yang digunakan oleh OpenOffice ini. Untuk itu saya simpan berkas dalam format lain juga, yaitu format PDF dan format rich text format (RTF).

Jadi sebetulnya bila kita terpaksa ternyata bisa. ha ha ha. Mungkin orang lain juga harus dipaksa pakai Linux (untuk awalnya)? ha ha ha. Setelah terbiasa baru dibebaskan.