Main-main IGOS Nusantara

Lanjutan dari main-main IGOS Nusantara.

ACPI untuk screen sudah jalan/ betul. Tadinya kalau notebook ditutup, layar mati dan tidak kembali lagi. Sekarang sudah bisa hidup kembali ketika layar dibuka lagi. Solusinya adalah mengedit /etc/acpi/events/video.conf dan mengikuti petunjuk di sana. (Uncomment dua baris.)

Masalah yang belum terpecahkan adalah LCD dan video out (untuk presentasi ke LCD projector) keluar bersamaan. Sampai saat ini belum terpecahkan. Mungkin harus update Xorg-nya dulu supaya menggunakan chipset yang digunakan notebook saya?

Masalah baru. Tadi updat mplayer dari repo di LIPI. Sekarang mplayer jadi nggak keluar suaranya! Waaahhh…

Update, update, update. Ternyata mplayer yang ada saat ini menggunakan OSS, bukan alsa. Jadi kalau saya paksa dia pakai oss (mplayer -ao oss) bisa jalan dia. Lah malah bingung; bukankah oss sudah dianggap kadaluwarsa dan digantikan dengan alsa?

Beberapa Hari dengan IGOS Nusantara

Sudah beberapa hari ini saya hanya menggunakan IGOS Nusantara saja. Kebetulan sedang di luar kota untuk beberapa hari. Saya membawa notebook yang berisi IGOS Nusantara. Notebook iBook (Mac OS X) saya tinggal di rumah. Ternyata hidup dengan IGOS Nusantara tidak terlalu bermasalah. Semua pekerjaan saya bisa saya lakukan di sini.

Pekerjaan saya menuntut saya untuk menggunakan akses Internet. Tidak ada masalah di sana, kecuali pada awalnya saja, yaitu mengakses access point yang menggunakan perlindungan WPA. Ternyata ketemu dengan menggunakan “wpa_supplicant”.

Berikutnya pekerjaan saya menuntut saya melakukan presentasi. Saya buat materi presentasi saya dengan menggunakan OpenOffice. Tidak ada masalah yang mendasar. Materi presentasi oke saja. Hanya saja saya kekurangan clip arts untuk membuat materi ini lebih menarik.

Presentasi saya lakukan dengan notebook ini juga. Nah di sini ada masalah sedikit. Saya tidak bisa menggunakan layar notebook dan layar tampilan (LCD projector) secara bersamaan. Hanya salah satu yang bisa hidup. Yang ini perlu dioprek lain waktu. Masalah kedua adalah Linux mendeteksi LCD projector memiliki kemampuan resolusi yang tinggi. Dia kemudian mencoba untuk menggunakan resolusi yang tinggi (1600 x 1200). Ternyata materi presentasi terpotong di sisi samping (kiri dan kanan). Selain itu karena memori notebook ini kecil (hanya 256 MB), maka resolusi yang tinggi ini membuat notebook melakukan swapping. Akibatnya notebook terasa lambat. Saya kecilkan resolusi ke 800x600. Problem selesai.

Pekerjaan selanjutnya adalah membuat tulisan. Yang ini saya lakukan dengan OpenOffice. Tidak ada masalah. Hanya saja saya tidak tahu apakah orang yang menerima tulisan saya dapat membuka berkas dalam format open document yang digunakan oleh OpenOffice ini. Untuk itu saya simpan berkas dalam format lain juga, yaitu format PDF dan format rich text format (RTF).

Jadi sebetulnya bila kita terpaksa ternyata bisa. ha ha ha. Mungkin orang lain juga harus dipaksa pakai Linux (untuk awalnya)? ha ha ha. Setelah terbiasa baru dibebaskan.

Pengalaman Update IGOS Nusantara

Kemarin saya update notebook yang ber-OS IGOS Nusantara ini. Ternyata ada lebih dari 200 paket yang harus diupdate. Untungnya di Jakarta saya punya akses Internet yang agak cepat. Eh, biarpun demikian ternyata update membutuhkan waktu yang cukup lama juga. Update dimulai pukul 10 malam dan baru selesai download pukul 7 pagi!

Setelah download, baru dilakukan proses instalasi. Ini membutuhkan waktu lagi. Aduh.

Terbayang oleh saya pengguna yang tidak memiliki akses Internet cepat seperti saya. Nampaknya tidak mungkin bagi mereka untuk melakukan update melalui Internet. Mekanisme update melalui CD dan flash disk nampaknya perlu menjadi alternatif.